Feminisme di Indonesia yang Banyak Diperdebatkan

Feminisme di Indonesia yang Banyak DiperdebatkanFeminisme merupakan gerakan yang dilakukan oleh beberapa pihak yang memperjuangkan kaum perempuan untuk perlu terbebas dari penindasan kalangan laki-laki dan mendapatkan persamaan derajat dari segi atau bidang mana pun. Feminisme di Indonesia sebenarnya masih susah diekspresikan sehingga menimbulkan berbagai macam kesalahpahaman atau pemikiran yang salah dengan sifat feminim.

Perkembangan feminisme di tanah air tentu berbeda dengan negara-negara lainnya. Beberapa negara ada yang membebaskan sifat feminim diekspresikan secara terbuka, tapi ada juga yang masih takut-takut mengeluarkannya karena dianggap membawa pemikiran yang negatif untuk pihak tertentu, seperti halnya di Indonesia.

Sebelum kamu salah paham dan menjadikannya hal yang negatif, sebaiknya kamu baca dulu hal-hal yang berkaitan dengan feminisme di tanah air seperti di bawah ini.

  1. Bukan mengajarkan salah satu pihak lebih tinggi dari posisi yang lain

Sebagian orang beranggapan kalau sifat feminim akan membuatnya menjadi terasa lebih tinggi derajatnya dibandingkan posisi yang lainnya. Contohnya saja sangat sederhana. Misalkan ketika ada temanmu yang memiliki sifat feminim, mereka sudah berpikir kalau derajat mereka lebih tinggi sehingga kaum laki-laki harus memberikan respek lebih padanya.

Dari pandangan itu, tentu bukan hal yang tepat untuk diterapkan. Feminisme bukan mengajarkan kita buat menyatakan diri sebagai pemilik derajat yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Hal ini masih saja sering terjadi di Indonesia dan gampang sekali kita menemukan masalah-masalahnya.

  1. A. Kartini sebagai tokoh perjuangan wanita Indonesia

Hampir semua negara memiliki tokoh-tokoh kemanusiaan yang memperjuangkan wanitanya, seperti di Indonesia memiliki R.A. Kartini. Sebagai wanita yang dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga ningrat, tentu ia punya kedudukan yang sangat dipandang oleh masyarakatnya di kala itu.

Tapi, Kartini yang melihat tidak ada persamaan derajat dalam hal pendidikan mau pun pekerjaan, ia pun akhirnya berusaha kuat untuk memajukan hak-hak wanita dengan berbagai cara. Salah satu bukti usahanya dalam memperjuangkan derajat feminisme di Indonesia yaitu melalui surat-suratnya yang kemudian dituangkan dalam bentuk buku, Habis Gelap Terbitlah Terang.

Apa saja kondisinya, sifat feminim di zaman Belanda dulu merupakan hal yang susah untuk diperjuangkan oleh Kartini, sehingga para wanita yang menyadari tujuannya akhirnya melanjutkan perjuangannya hingga sekarang ini. Mereka yang berjuang menyadari kalau jenis kelamin perempuan jangan dijadikan sebagai eksploitasi dan diperlakukan semena-mena. Mereka juga berhak punya keinginan yang sama dan terbebas dari penindasan.

  1. Feminisme di tanah air prosesnya lambat dan tenang

Pasti kamu sudah sering banget melihat atau mendengar berita kalau kaum perempuan di luar negeri sana berani melakukan demo besar-besar agar haknya juga disamakan dengan kalangan laki-laki. Tapi, kalau di Indonesia, hal itu masih sangat jarang dilakukan karena budayanya yang lebih menjunjung kesopanan dan norma masih sangat tinggi, apalagi ajarannya agamanya yang masih sangat melekat di diri orang Indonesia.

Tidak heran kalau feminisme di Indonesia hanya mengalami proses yang jauh lebih lambat dan tenang daripada negara lainnya. Kalau pun ada yang melakukan demo, mereka menggerakannya tidak terlalu optimal dan seperti dipandang sebelah mata saja.

  1. Hanya kaum perempuan yang menjadi feminim

Pernyataan ini sudah tidak asing lagi di Indonesia. Banyak yang mengatakan kalau sifat feminim sebaiknya hanya dimiliki oleh kaum wanita saja dan laki-laki harus bersifat lebih jantan atau gentle. Padahal, feminis memiliki komitmen yang bisa mengatasi masalah sehari-hari yang biasanya dialami oleh banyak wanita, seperti pemerkosaan, KDRT, kekerasan seksual, dan sebagainya.

Ketika kaum prianya memahami sifat feminisme atau dalam artian kepekaan gender, tentu mereka akan lebih menghormati kaum perempuannya. Jadi, masalah-masalah kekerasan dan lain-lainnya tidak menjadi topik yang sering dibicarakan setiap harinya.

Masih banyak pendapat lainnya yang masih berlalu lalang mengenai feminisme di Indonesia. Tapi, berkat perkembangan zaman, sudah ada beberapa bidang yang menunjukkan kalau perempuan itu memiliki derajat yang sama dengan laki-laki. Hanya saja, masih butuh proses dan perjuangan lagi agar wanita mendapatkan haknya.

shares